Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Judul artikel ini mungkin agak menggelitik. ‘Biasa’ vs ‘Luar Biasa’…Yep, kali ini saya akan membahas perbedaan antara orang yang sukses dengan orang yang tidak sukses ( G A G A L ). Pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang sama untuk meraih kesuksesan. Hanya saja cara mereka menghandle masalah dan mengarungi kegagalan itulah yang membuat mereka memilih untuk menjadi orang yang tidak sukses.

Kebanyakan orang akan merasa terpuruk ketika mereka dihadapkan dengan sebuah kegagalan. Mereka ragu untuk mencoba peluang lain. Faktanya, 99% orang seperti itu adalah orang yang G A G A L. Wajar kalau seseorang akan merasa amat kecewa ketika usaha yang dilakukannya selama ini sia – sia. Namun bagaimana cara yang benar untuk menghadapinya ?

Lanjut Baca »

Lama sudah saya tidak menulis lagi dalam blog ini. Kali ini saya ingin mengusung tema “Pengaruh Sepuntung Rokok bagi Kehidupan Wanita”. Tema yang biasa namun ini perlu untuk diungkap.

Ide ini tercetus saat saya melihat banyaknya wanita di sekitar saya yang merokok. Hati saya merasa terpanggil untuk mencari tahu sebenarnya apa sih nikmatnya merokok.

Lanjut Baca »

Sohib muda, postingan kali ini saya akan menulis tentang nasionalisme.  Menurut L. Stoddard yang say a baca dari buku PPKn, Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. Kita adalah bangsa Indonesia yang menganut sistem nasionalisme Pancasila. Pada prinsipnya nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa:

  • menempatkan persatuan – kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan;
  • menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara;
  • bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri;
  • mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa;
  • menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia;
  • mengembangkan sikap tenggang rasa;
  • tidak semena-mena terhadap orang lain;
  • gemar melakukan kegiatan kemanusiaan;
  • senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan;
  • berani membela kebenaran dan keadilan;
  • merasa bahwa bangsa Indonesia merupakan bagian dari seluruh umat manusia; dan
  • menganggap pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

Kenapa saya tertarik menulis tentang nasionalisme. Ini ada cerita yang mendasarinya. Hari ini saya mendengar perbincangan antar laborat di sekolah saya dengan salah satu siswa. Bukan niat hati untuk menguping namun volume bicara mereka terlalu besar sehingga wajar saja jika saya dan teman-teman yang kebetulan berada di situ mendengar pembicaraan mereka.Mereka berbicara dalam Bahasa Inggris, awalnya saya agak kesulitan memahaminya. Namun lama kelamaan saya mengerti inti dari pembicaraan mereka. Laborat itu meminta pada siswa untuk menggunakan Bahasa Inggris setiap kali berbicara dengannya. Sang siswa menolak, ia beralasan bahwa ia belum lancar berbahasa Inggis. Si laborat tetap kukuh, siswa itu harus menggunakan bahasa inggris setiap kali berbicara dengannya.
Pembicaraan itu membuatku berpikir, sebenarnya baik nggak sih berbicara menggunakan bahasa asing di negara sendiri ? Lantas siapa yang akan menggunakan bahasa kita (Bahasa Indonesia) ? Orang asing ? Saya tersenyum sinis di tengah lamunan saya.
Bayangkan, di saat kita menyerukan nasionalisme, ada beberapa pihak yang dengan bangga mencetuskan untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari. Memang kita diharapkan bisa menguasai beberapa bahasa khususnya bahasa asing. Tetapi bukan berarti kita harus menggunakan bahasa asing di negara sendiri. Inilah yang menjadi hambatan bangsa kita. Bagaimana kita bisa maju jika kita terus-terusan memuja (menggunakan) produk asing ?
Harusnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Ada saatnya kita menggunakan bahasa asing namun, ada waktunya sendiri. Misal : saat kita pergi ke salah satu objek wisata lalu kita bertemu dengan orang asing. Ia meminta kita untuk menjelaskan tentang objek wisata tersebut. Jelas kita harus menggunakan bahasa inggris. Karena orang asing tersebut pastinya tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan masih banyak contoh situasi yang pas saat kita menggunakan bahasa asing.
Jadi, tutur ucapan juga mempengaruhi kemajuan bangsa kita. Jangan sampai kita asyik dengan bahasa asing lalu orang asing mencuri bahasa kita. Kalau sampai itu terjadi, maka PENJAJAHAN terhadap bangsa Indonesia telah dimulai kembali. Tentunya kita tidak menginginkan hal tersebut, kan?
Demikian tulisan saya, semoga bisa menjadi motivasi untuk semua warga Indonesia.

Siapa bilang batik itu kuno ?

Batik identik dengan busana jaman dulu atau busana resmi yang kuno. Jaman dulu setiap orang baik muda maupun tua semua menggunakan busana batik. Lalu pada zaman yang serba modern ini, anak – anak muda mulai enggan untuk mengenakan batik karena dianggap kuno / tidak keren. Saya sempat menyayangkan hal ini. Namun akhirnya seiring berjalannya waktu, batik telah digubah menjadi busana yang trendy oleh para designer – designer Indonesia. Jadilah busana bernuansa batik yang tidak hanya bisa digunakan untuk orang tua tapi juga bisa digunakan untuk anak muda.

Setelah diresmikannya batik ke dalam daftar representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia pada 2 Oktober 2009 – oleh UNESCO. Warga Indonesia dapat berlega hati karena tak perlu khawatir batik akan di klaim bangsa lain. Kini para pegawai di Indonesia pun diwajibkan untuk mengenakan seragam batik pada hari yang ditentukan. Berikut ini adalah contoh busana batik modern :

Batik modern

Batik Modern

Harapan saya, semoga warga Indonesia khususnya anak muda bisa ikut andil dalam melestarikan batik dan kebudayaan Indonesia yang lainnya. Jangan sampai kita terjajah untuk ketiga kalinya !!! Tentunya hal tersebut dapat dicegah dengan cara sbb :

1. menggunakan produk dalam negri.

2. Tidak mudah terpengaruh dengan budaya luar.

3. Stop budaya asing ! jangan hanya diucapkan di mulut saja tapi dibuktikan secara tindakan.

Yup,  buat anak – anak muda…Jangan hanya tertarik dengan budaya asing karena sebenarnya bangsa kita memiliki beraneka ragam budaya yang lebih menarik. Keep Spirit !!!

Sumber gambar :

www.alif-collection.com

www.foto.detik.com

Benar kata Bung Karno bahwa bangsa ini akan berjaya jika mengenang masa lalu dan menatap masa depan. Ingat ucapan Bapak Presiden kita pertama “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau dikenal dengan istilah “Jasmerah”.

Bicara sejarah kita maka kita bicara peninggalan sejarah itu yang berupa museum. Kota Semarang tempat tinggal saya selama ini memiliki banyak museum antara lain Museum Mandala Bhakti, Museum Ronggowarsito, dan yang paling dikenal adalah Lawang Sewu yang berada di bundaran Tugu Muda.

1Tulisan ini mencoba memberi nuansa kepada pembaca setia blog saya (wah sombongnya ….) tentang keberadaan museum-museum tersebut dan akan saya kaitkan dengan semangat patriotisme. Saya mulai dari Museum Mandala Bhakti. Museum ini berisi benda-benda peninggalan jaman perang kemerdekaan baik berupa kendaraan perang, persenjataan dan foto-foto gedung pada jaman dulu. Mari kita lihat lebih dekat, museum yang berada di depan Lawang Sewu ini ibarat bangunan yang sudah renta dan tidak menarik lagi. Ramainya lalu lintas kawasan Tugu Muda tidak dapat menarik animo masyarakat untuk melihat dalamnya museum.

indexMelanjutkan jalan-jalan saya adalah bangunan di depan museum Mandala Bhakti yaitu Lawang Sewu. Kondisinya tidak jauh berbeda. Bangunan yang terkenal karena Peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang ini tak ubahnya seperti Kastil yang menyeramkan, sehingga tidak heran jika tempat ini menjadi Uji Nyali terhadap makhluk ghaib yang sempat di tayangkan sebuah TV swasta.

3Bergerak ke barat saya singgah di bundaran Kali Banteng. Kali ini saya berkunjung ke Museum Ronggowarsito. Kondisi museum ini jauh lebih baik dibanding dua tempat sebelumnya, tetapi bagusnya bangunan juga tidak dapat menarik animo pengunjung. Sungguh ironis.

Pembaca yang setia, inilah kondisi real museum di kota Semarang, mungkin juga di kota-kota lain. Apakah ini pertanda patriotisme masyarakat kita sudah mulai memudar ? Mari kita wacanakan !

Sumber foto :

  • http://sannywannatell.wordpress.com/galeri-pameran/
  • www.mesias.8k.com
  • www.semarangan.net

picture-0041Hari itu saya mendengar celetuk seorang teman pada waktu pelajaran sejarah. Dia berkata apakah guna kita capai capai belajar sejarah masa lalu, toh sekarang sudah jaman modern, bukan lagi jaman Belanda. Suatu celutukan yang menggugah insting saya untuk mendapatkan data lebih luas berkaitan dengan pelajaran sejarah.

Begitu bel istirahat berdentang segera saya beraksi untuk menyebarkan pertanyaan kepada temen-temen satu kelas.

  1. Pertanyaan pertama, apakah anda tertarik dengan pelajaran sejarah ? dan
  2. pertanyaan kedua mengapa anda tertarik/tidak tertarik pelajaran sejarah?

Saya meminta temen untuk menjawab pada sobekan kertas yang telah aku buat. Dan inilah hasilnya : 100 % anak menyatakan tidak suka pelajaran sejarah.

Sedan gkan alasan yang dikemukakan bermacam-macam antara lain :

  1. 50 % karena gurunya tidak menarik
  2. 15 % karena hafalan melulu
  3. 12 % karena bukan pelajaran yang di UN kan
  4. 10 % karena dari dulu memang tidak suka pelajaran sejarah
  5. 8 % karena buat apa belajar sejarah
  6. 5 % karena tidak menjawab

Dari hasil poling tersebut dapat menggambarkan jiwa patriotisme di kalangan pelajar karena belajar sejarah bertujuan untuk memupuk semangat patriotisme. Sehingga tidak salah jika saya mengatakan patriotisme pelajar sekarang ini berada di ujung tanduk. Setuju ?

DEFINISI PATRIOTISME

Patriotisme berasal dari kata Patriot, yang artinya adalah: pecinta dan pembela tanah air. Sedangkan Patriotisme maksudnya adalah semangat cinta tanah air. Pengertian Patriotisme adalah sikap Untuk selalu mencintai atau membela tanah air, seorang pejuang sejati, pejuang bangsa yang mempunyai semangat, sikap dan perilaku cinta tanah air, dimana ia sudi mengorbankan segala-galanya bahkan jiwa sekalipun demi kemajuan, kejayaan dan kemakmuran tanah air. Untuk memahami arti patriotisme, Coba kita cermati nukilan naskah pidato Bung Karno pada peringatan hari proklamasi 17 Agustus 1951 berikut ini :

“…. Saudara-saudara … hal `kemakmuran’ dan `keadilan sosial’ ini cita cita kita bukan cita-cita yang kecil. Manakala Revolusi Perancis, misalnya, adalah revolusi untuk membuka pintu buat kapitalisme dan imperialisme, maka revolusi kita adalah justru untuk menjauhi kapitalisme dan imperialisme. Tetapi seperti sudah puluhan, ratusan kali saya katakan: Revolusi bukan sekedar kejadian sehari bukan sekedar satu evenement; revolusi adalah suatu proses, suatu proses destruktif dan konstruktif yang gegap-gempitanya kadang-kadang memakan waktu puluhan tahun. Proses destruktif kita boleh dikatakan sudah selesai, proses konstruktif kita, sekarang baru mulai. Dan ketahuilah, proses konstruktif ini memakan banyak waktu dan banyak pekerjaan. Ya, banyak pekerjaan! Banyak pemerasan tenaga dan pembantingan tulang! Banyak keringat! Adakah di dalam sejarah tercatat suatu bangsa menjadi bangsa yang besar dan makmur zonder (tanpa) banyak mencucurkan keringat? Tempo hari saya membaca tulisan seorang bangsa asing yang mengatakan bahwa “mempelajari sejarah adalah tiada guna.” “History is bunk”, demikian katanya. Tetapi saya berkata: justru dari menelaah sejarah itulah kita dapat menemukan beberapa hukum pasti yang menguasai kehidupan bangsa-bangsa. Salah satu daripada hukum-hukum itu ialah tidak ada kebesaran dan kemakmuran yang jatuh begitu saja dari langit. Hanya bangsa yang mau bekerjalah menjadi bangsa yang makmur. Hukum ini berlaku buat segala zaman, buat segala tempat, buat segala warna kulit, buat segala agama atau ideologi. Ideologi yang mengatakan bahwa bisa datang kemakmuran zonder kerja adalah ideologi yang bohong!

Bila kita mempunyai jiwa rela berkorban demi tanah air dan bangsa, bangga sebagai bangsa Indonesia dan menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi berarti dalam dada kita telah tertanam patriotisme.

Kali ini saya keranjingan untuk memberi poling pada temen-temen saya. Setelah poling kapan hari pahlawan ? kali ini saya melanjutkan dengan satu pertanyaan “Apa yang paling diingat dengan hari pahlawan ?” Kalau ada yang bertanya bagaimana cara polingnya, maka akan saya jawab dengan bahasa sederhana bahwa poling ini tanpa metode baku. Saya hanya bertanya kepada temen satu persatu dan saya tulis hasilnya juga satu persatu disela-sela waktu belajar. Untuk poling edisi ini, tertera hasil berikut :

  1. Bung Tomo dijawab oleh 10 orang
  2. Perang di Surabaya dijawab oleh 4 orang
  3. Tewasnya Mallaby dijawab oleh 2 orang
  4. Tidak tahu dijawab oleh 4 orang

Inilah hasil poling, semoga ada manfaatnya.

KAPAN HARI PAHLAWAN ?

Tulisan saya pada postingan terdahulu dengan judul Sudahkah Kita Seorang Nasionalis ? mendapat respon yang positif dari pembaca. Oleh karena itu semangat saya bertambah untuk terus menulis. Kali ini tulisan saya tentang hari pahlawan, salah satu hari nasional yang terus diperingati setiap tahun. Saya coba mengungkap daya ingat anak muda yang masih duduk di bangku sekolah menengah tentang hari pahlawan. Untuk itu saya memberikan satu pertanyaan kepada temen-temen saya berjumlah 20 orang dengan satu pertanyaan “Kapan Hari Pahlawan Nasional diperingati ?. Inilah hasilnya :

  1. Yang menjawab tanggal 10 Nopember ada 17 orang
  2. Yang menjawab tanggal 10 Oktober ada 1 orang
  3. Yang menjawab tanggal 1 Nopember ada 1 orang
  4. Yang menjawab tidak tahu ada 1 orang.

Dari gambaran poling tersebut terlihat bahwa temen-temen saya masih ingat kapan hari pahlawan walaupun tidak semua. Semoga ini terus dipelihara jangan sampai anak muda tidak lagi tahun kapan hari pahlawan, Amin.

1Judul di atas mungkin akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Dan itu memang keinginan saya karena kita akan berdiskusi mengenai arti sebuah rasa nasionalisme yang dulu begitu melekat di dada para pahlawan pendahulu kita. Pesan luhur para pahlawan untuk melawan para penjajah negeri ini, baik Portugis, Belanda, Inggris, maupun Jepang. Mengawali tulisan ini adalah kalimat Bung Karno yang saya cuplik dari buku di Bawah Bendera Revolusi seperti berikut :

Jikalau kita ingin mendidik rakyat Indonesia ke arah kebebasan dan kemerdekaan, jikalau kita ingin mendidik rakyat Indonesia menjadi tuan di atas dirinya sendiri, maka pertama-tama kita harus membangun-bangunkan dan membangkit-bangkitkan dalam hati sanubari rakyat Indonesia itu ia punya roh dan semangat menjadi roh merdeka dan semangat merdeka yang sekeras-kerasnya, yang harus pula kita hidup-hidupkan menjadi api kemauan merdeka yang sehidup-hidupnya !

Saya mulai mengamati temen-temen di sekolah, bertanya kepada mereka dengan satu kalimat Apakah kamu mempunyai rasa nasionalisme ? Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.